Dekan dan Mahasiswa asing Ramaikan Ketoprak Humor

Printer-friendly versionSend by emailPDF version

PURWOKERTO – Ketoprak Humor dengan lakon Lutung Kasarung yang disutradarai Cipto Subroto selaku Seniman Kabupaten Banyumas sekaligus staf kependidikan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNSOED, digelar di Halaman Gedung Roedhiro, Sabtu (17/10) pukul 19.30 WIB. Pagelaran Ketoprak tersebut diramaikan juga oleh Dr. Pramono Hari Adi,MS selaku Dekan yang memerankan sebagai Prabu Silihwangi dengan didampingi istri dan beberapa staf pendidik yang memang memiliki talenta seni, yaitu  Dr. Adi Indrayanto, M.Si. sebagai Pangeran Banyak Catra, Drs. Suwaryo  sebagai Adipati Pasir Luhur, Drs. Rusmusi IMP, M.Si.  sebagai Prabu Pulebahas, dan didukung oleh staf kependidikan.

Dekan, menuturkan, dalam rangka memeriahkan Dies Natalis ke-52 FEB UNSOED, maka Sabtu (hari ini-red) gelaran ketoprak humor menjadi rangkaian gelaran Dies Natalis yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Dalam pagelaran ini penonton ibuat tertawa terpingkal–pingkal oleh polah lucu para pemainnya, yang notabene tidak semuanya menguasai bahasa jawa.

Selain Dekan dan beberapa staf pendidik dan kependidikan yang turut meramaikan ketoprak humor, juga diramaikan oleh Pieter Van Nes mahasiswa dari belanda yang sedang magang di Prodi.Internasional memerankan sebagai Raden Kamandaka. Dan untuk lebih mengocok perut penonton, dihadirkan pula tokoh ketoprak dan tokoh lawak senior dari banyumas yang kondang di dunia seni lawak. Sebelum pagelaran ketoprak dimulai, gelaran kirab turut menambah semarak gelaran malam resepsi Dies Natalis FEB UNSOED. Para penabur bunga di acara kirab ini sebagian besar oleh para mahasiswa asing, diantaranya dari Papua Nugini, Solomon, China, Jepang, Norwey, Malaysia dan didampingi oleh para pemikul tumpeng.

 

“Ketoprak humor ini berkisah tentang tentang perjuangan Raden Banyak Catra, putra Prabu Siliwangi, Raja Pajajaran. Dikisahkan saat itu Raden Banyak Catra dipersiapkan untuk menggantikan kedudukan ayahnya menjadi raja. Namun syarat untuk menjadi raja, Raden Banyak Catra harus memiliki istri terlebih dahulu. Akhirnya Raden Banyak catra pergi mengembara untuk mencari pendamping hidup. Raden Banyak Catra menyamar sebagai rakyat jelata dan berganti nama menjadi Kamandaka. Kamandaka pergi ke Pasir Luhur, sebuah Kadipaten yang dipimpin oleh Adipati Kandhadhaha. Kedatanannya ke Pasirluhur adalah untuk menemui Dewi Ciptarasa, putri bungsu sang Adipati. Singkat cerita Banyak Catra dianjurkan supaya bertapa di sebelah timur Pasiruhur, yaitu di dekat tempuran sungai Logawa dan Sungai Mengaji. Karena ketekunannya bertapa, Banyak cara memperoleh anugerah dari Dewa berua baju ajaib. Jika baju Tersebut dipakai, maka ia akan berubah menjadi seekor Lutung (kera). Akhirnya Dewi Ciptarasa tahu bahwa lutung tersebut adalah si Kamandaka.

Sementara itu Prabu  Pulebahas dari dari Nusakambangan berniat melamar Dewi Ciptarasa. Dewi Ciptarasa bingung menerima lamaran itu. Kamandaka menyarankan agar Dewi Ciptarasa menerima lamaran dari Prabu Pulebahas tersebut dengan dua syarat. Syarat. Syaratnya diterima Prabu Pulebahas dan pernikahan pun dilaksanakan pada waktu yang telah ditentukan. Saat kirab pengantin atau pertemuan pengantin, Lutung mendampingi Dewi Ciptarasa. Saat Prabu Pulebahas berbasa basi akan menggendong si Lutung, Lutung tersebut menerkam prabu Pulebahas sehingga terjadi perkelahian yang sengit. Akhirnya prabu Pulebahas tewas. Namun pada saat itu sang Lutung berubah wujud menjadi Pangeran Banyak Catra. Maka kagetlah sang adipati Kandhadhaha karena sang Lutung ternyata putra dari Prabu Silihwangi. Akhirnya hubungan Dewi Ciptarasa dengan pangeran Banyak Catra direstui oleh Adipati Kandhadhaha hingga keduanya menikah dan hidup berbahagia.

Pagelaran ketoprak humor ini tidak lain dapat menambah wawasan dan pengetahuan seni budaya jawa yang adhi luhung, sebagai sarana nguri–uri kebudayaan jawa agar masyarakat mencintai budayanya sendiri. (ipunk)