Kesiapan dalam Menghadapi MEA 2016

Printer-friendly versionSend by emailPDF version

PURWOKERTO , feb.unsoed.ac.id - Perhelatan pergantian tahun di depan mata. Berpacu dengan waktu, pada tahun 2015 ini pula (tepatnya pada Desember 2015) kita akan dihadapkan pada Masyarakat Ekonomi ASEAN / MEA (ASEAN Economic Communities). Tidak mau ketinggalan jauh, Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UNSOED pun turut mempersiapkan diri hadapi MEA.

Melalui kegiatan Kuliah Umum di gedung Auditorium Roedhiro FEB lantai tiga yang bertajuk pada “Peningkatan Keunggulan Daya Saing Perbankan dalam Menhadapai MEA 2016”, FEB mengundang dua narasumber yang sekaligus sebagai alumni Drs. Windiartono Tabingin, MBA dan Prof.Dr.Agus Suroso, MS dengan moderator Dra. Siti Zulaickha Wulandari, SE, M.Si. Kegiatan ini diikuti oleh para mahasiswa, baik dari Program S1, S2, S3, para staf pendidik maupun pengelola di lingkungan Jurusan Manajemen dan para pimpinan fakultas. Kamis (29/10).

Dr. Pramono Hari Adi, MS selaku Dekan FEB, sangat mengapresiasi akan kegiatan ini. Terlebih narasumber eksternalnya berasal dari alumni FEB. Dekan mengatakan bahwa sebagai lembaga pendidikan, fakultas mempunyai peranan penting dalam menghadapi MEA 2016, pembenahan-pembenahan pun turut gencar mulai dilakukan. Besar akan harapan fakultas akan para lulusan  nantinya sudah siap tanding, tegasnya.

Pada sesi pertama Drs. Windiartono Tabingin, MBA akarab disapa windi ini, menjelaskan secara singkat tentang QNB (Qatar Nasional Bank) yang tak lain windi menjabat sebagai Direktur Kepatuhan PT Bank QNB Indonesia Tbk. Lebih lanjut, juga dijelaskan beberapa produk dari QNB maupun peranannya, khususnya dalam dunia perbankan.

MEA disepakati akan dimulai di akhir tahun 2015 ini. Suatu era yang menyatukan Negara-negara di kawasan Asia Tenggara menjadi “satu basis pasar dan produksi”. Dimana akan terjadi arus bebas produk, jasa, investasi, tenaga kerja, dan modal, yang semuanya bermuara pada prinsip pasar terbuka bebas hambatan.  Ambisi ASEAN membentuk MEA salah satunya didorong oleh perkembangan eksternal dan internal kawasan. Sebagai Negara dengan ekonomi paling besar di ASEAN, dengan sekitar 40 persen dari PDB ASEAN, dan hampir setengah dari populasi ASEAN, Indonesia merupakan aktor penting dalam MEA yang akan berlangsung ini. Begitu pula peranan Bank di Indonesia, menjadi hal yang penting pula.

Hal senada pun disampaikan oleh narasumber kedua Prof.Dr.Agus Suroso, MS yang menyampaikan akan  ketahanan perbankan kita di Indonesia sudah mulai baik perkembangannya. Dalam menghadapi persaiangan, hendaknya perbankan harus ikuti aturan-aturan yang ada, tiga point yang dapat dilakukan oleh perbankan kita di Indonesia diantaranya kita harus mulai perbaiki kualitas layanan untuk jauh lebih baik, globalisasi akan perkembangan teknologi yang jauh lebih baik dan perbankan kita di Indonesia hendaknya ikuti aturan-aturan perbankan Internasional.

Beberapa hal yang dapat dilakukan jika negeri ini mau memetik keuntungan dengan adanya MEA. Strategi kedalam, seperti penggunaan produk dalam negeri, perbaikan infrastruktur dan perbaikan sistem logistik nasional, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, dan membangun industri yang berbasis nilai tambah. Penerapan standard mutu untuk produk atau jasa yang akan masuk ke pasar Indonesia, perbaikan sistem pengelolaan ekspor impor serta memperketat pengawasan ekspor impor, selain itu yang penting juga adalah memperluas akses pasar di luar negeri.

Perdagangan bebas kawasan memang dapat menjadi peluang sekaligus tantangan. Tentu sebagai warga bangsa kita selalu berharap MEA yang akan dimulai Desember 2015 nanti dapat membawa kebaikan bagi seluruh warga bangsa Indonesia. (ipunk)