UKM SASMI FE UNSOED Gelar TTM

Printer-friendly versionSend by emailPDF version

Mengadakan pertunjukan seni tradisional di tengah merebaknya budaya modern tidaklah mudah. Tantangan itulah yang dicoba komunitas Sanggar Seni Mahasiswa Fakultas Ekonomi (Sasmi) Universitas Jenderal Soedirman, Purwokerto, Minggu (1/8) malam. Melalui pagelaran yang diberi tema Tari Tradisional Modern atau TTM, mereka mencoba menunjukkan bahwa menonton seni tradisional pun tetap keren. Ada sembilan permainan tari yang disuguhkan Sasmi dalam pertunjukan yang digelar di halaman Kampus Fakultas Ekonomi malam itu. Empat tari tradisional, empat tari modern, dan satu kontemporer.

Tak cukup memeragakan aneka tarian, fragmen dan cerita lucu, mirip drama kabaret mengiringi sepanjang pertunjukan. Dialog-dialog, iringan musik, dan dandanan khas anak muda masa kini disertakan. Dengan gimmick di luar tari itulah mereka mencoba menawarkan kepada khalayak bahwa pertunjukan tari bukan ritual ndeso yang tak kekinian. Upaya memadupadankan nuansa tradisional dan modern juga mereka coba melalui tampilan latar panggung. Sebuah layar raksasa berukuran 1,5 x 1,5 meter dipasang di sisi kanan panggung. Pada layar itu ditampilkan fragmen singkat dan lucu dalam bentuk potongan cerita bersambung. Setiap potongan cerita diputar saat jeda tari. Pada puncak cerita, fragmen di layar diejawantahkan dalam seni kabaret berbalut tari oleh para mahasiswa. Sementara di sebelah kiri panggung ditempatkan sebuah instalasi gubuk-gubuk tradisional sebagai simbol seni tradisional.

Pertunjukan dibuka dengan pertunjukan tarian tradisional banyumasan, lengger, yang dimainkan 10 mahasiswa. Disusul kemudian dengan tari kreasi modern dengan iringan musik lagu Waka Waka. Begitulah selanjutnya, seni tradisional diselingi tari modern.

"Dengan cara ini, penonton yang mungkin tak semua suka tari tradisional tetap terus menonton dan menikmati. Dengan terus menonton, mereka juga semakin kenal dengan tari tradisional yang kini sudah banyak ditinggalkan anak muda," kata Desi Ceria, salah satu pengurus Sasmi yang malam itu menjadi panitia TTM.

Sekitar 100 penonton hadir dalam pertunjukan itu. Mereka umumnya mahasiswa Unsoed. Latar belakang mereka menonton pun berbeda-beda. Ada yang memang sekadar mengisi waktu, ikut teman, hingga memang menyukai seni tari. "Saya tak terlalu paham dengan seni tradisional banyumasan. Tapi kalau menonton saya suka. Apalagi ada lucu-lucunya seperti ini. Sangat menghibur," ujar Arif, mahasiswa Jurusan Manajemen FE Unsoed. (M Burhanudin)

Kompas, 5 Agustus 2010 | 16:50 WIB