Shopping cart

empty-cart

Your Cart is empty

Go To Shop

ISEI dan Bank Indonesia Dorong Waste-to-Energy sebagai Inovasi Ketahanan Energi dan Agenda Pembelajaran Kolaboratif

author-img Editor April 8, 2026

Purwokerto, 7 April 2026 — Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) Cabang Purwokerto bekerja sama dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto menyelenggarakan kegiatan ISEI Industry Matching dan Focus Group Discussion (FGD) bertema “Proyek Waste-to-Energy terhadap Ketahanan Energi Nasional”. Kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan peran komunitas akademik dan kebijakan dalam mendukung transisi energi berkelanjutan di Indonesia.

Forum ini dirancang sebagai ruang dialog akademik-strategis yang mempertemukan akademisi, regulator, dan pelaku industri untuk membahas pengembangan energi berbasis sampah (waste-to-energy) sebagai solusi integratif terhadap tantangan ketahanan energi sekaligus pengelolaan lingkungan.

Ketua ISEI Cabang Purwokerto, Prof. Dr. Wiwiek Rabiatul Adawiyah, M.Sc.,, dalam sambutannya menegaskan bahwa pengembangan waste-to-energy merupakan bagian penting dari agenda pembangunan berkelanjutan yang memerlukan pendekatan multidisiplin dan kolaboratif. Perguruan tinggi dan komunitas keilmuan memiliki peran strategis dalam menghasilkan kajian berbasis bukti (evidence-based) guna mendukung perumusan kebijakan yang efektif.

Sambutan turut disampaikan oleh Dr. Aviliani, S.E., M.Si., yang menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mempercepat implementasi energi terbarukan. Ia menyampaikan bahwa kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha menjadi kunci dalam mendorong transformasi menuju ekonomi hijau serta pencapaian target net zero emission Indonesia.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Purwokerto, Christoveny Chasnaf, S.E., M.M., CA., menegaskan komitmen Bank Indonesia dalam mendukung pengembangan ekonomi berkelanjutan melalui penguatan kebijakan dan fasilitasi kolaborasi antar pemangku kepentingan, termasuk dalam pengembangan energi baru dan terbarukan.

Dalam keynote speech, Prof. Dr. Muliaman D. Hadad menyoroti pentingnya dukungan pembiayaan inovatif dalam pengembangan proyek waste-to-energy. Ia mengungkapkan bahwa Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara tengah menyiapkan platform investasi energi berbasis sampah untuk mempercepat implementasi proyek di berbagai daerah di Indonesia.

Platform ini dirancang untuk memperkuat ekosistem investasi melalui skema kolaboratif dan peran sebagai co-investor, sehingga mampu meningkatkan kepercayaan investor serta mendorong percepatan pengembangan proyek energi berbasis sampah secara nasional.

Diskusi dilanjutkan dengan pembahasan implementasi pengelolaan sampah terpadu di Banyumas serta Focus Group Discussion bertema “Peran Renewable Energy terhadap Aktivitas Industri di Indonesia” yang dimoderatori oleh Dr. Dinna Prapto Raharj. Forum ini menghasilkan sejumlah rekomendasi strategis, antara lain penguatan kebijakan berbasis riset, integrasi pendekatan ekonomi sirkular, serta peningkatan peran inovasi dalam pengembangan energi terbarukan.

Sebagai bagian dari pendekatan pembelajaran kontekstual, peserta kegiatan juga melakukan kunjungan lapangan ke TPST Kaliori dan TPST Sokaraja Kulon di Kabupaten Banyumas. Kegiatan ini memberikan pemahaman langsung mengenai praktik pengelolaan sampah berbasis energi di tingkat lokal serta peluang replikasi model tersebut dalam skala nasional.

Melalui kegiatan ini, ISEI bersama Bank Indonesia menegaskan komitmennya dalam mendorong penguatan sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan praktik lapangan. Pengembangan energi berbasis sampah tidak hanya menjadi solusi atas persoalan lingkungan, tetapi juga berperan strategis dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan mendukung agenda pembangunan rendah karbon di Indonesia.

Penguatan pengembangan energi berbasis sampah (waste-to-energy) di Indonesia semakin menegaskan pentingnya integrasi antara dimensi akademik, kebijakan, dan praktik implementatif dalam mendorong transisi energi berkelanjutan. Kegiatan ISEI Industry Matching dan Focus Group Discussion yang diselenggarakan di Purwokerto menjadi representasi konkret dari upaya membangun ruang dialog strategis lintas sektor. Forum ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang diskusi, tetapi juga sebagai platform pertukaran pengetahuan berbasis bukti yang mempertemukan akademisi, regulator, dan pelaku industri. Dalam konteks ini, waste-to-energy diposisikan sebagai solusi integratif yang mampu menjawab tantangan ketahanan energi sekaligus pengelolaan lingkungan. Transformasi ini mencerminkan pergeseran paradigma dari pendekatan sektoral menuju pendekatan sistemik. Dengan demikian, pengembangan energi berbasis sampah menjadi bagian dari agenda pembangunan berkelanjutan yang bersifat multidimensional.

Peran komunitas akademik dalam pengembangan waste-to-energy menjadi sangat krusial, terutama dalam menghasilkan kajian empiris yang dapat dijadikan dasar perumusan kebijakan. Perguruan tinggi tidak hanya berfungsi sebagai pusat produksi pengetahuan, tetapi juga sebagai agen perubahan yang mampu menjembatani kebutuhan antara teori dan praktik. Dalam forum tersebut, ditegaskan bahwa pendekatan multidisiplin diperlukan untuk memahami kompleksitas pengelolaan sampah dan energi secara komprehensif. Hal ini mencakup aspek teknis, ekonomi, sosial, hingga kelembagaan yang saling berinteraksi. Oleh karena itu, penguatan riset berbasis evidence menjadi elemen kunci dalam memastikan efektivitas kebijakan yang dihasilkan. Tanpa landasan ilmiah yang kuat, intervensi kebijakan berpotensi tidak tepat sasaran dan kurang berkelanjutan.

Selain aspek akademik, sinergi lintas sektor menjadi faktor determinan dalam mempercepat implementasi energi terbarukan berbasis sampah. Kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pengembangan inovasi energi. Dalam konteks ini, pemerintah berperan sebagai regulator yang menyediakan kerangka kebijakan, sementara sektor swasta berfungsi sebagai penggerak investasi dan teknologi. Masyarakat, di sisi lain, menjadi aktor utama dalam pengelolaan sampah di tingkat hulu. Interaksi ketiga aktor tersebut membentuk suatu sistem yang saling bergantung dan tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, keberhasilan waste-to-energy sangat ditentukan oleh kualitas koordinasi dan kolaborasi antarpemangku kepentingan.

Dukungan institusi seperti Bank Indonesia menunjukkan bahwa pengembangan energi berkelanjutan tidak hanya menjadi domain sektor energi, tetapi juga bagian dari agenda stabilitas dan pertumbuhan ekonomi. Peran Bank Indonesia dalam memfasilitasi kolaborasi dan memperkuat kebijakan ekonomi berkelanjutan mencerminkan pendekatan yang lebih holistik dalam pembangunan. Energi berbasis sampah dipandang sebagai salah satu instrumen untuk mendorong ekonomi hijau sekaligus meningkatkan ketahanan energi nasional. Hal ini menunjukkan adanya integrasi antara kebijakan moneter, sektor riil, dan agenda lingkungan. Dengan demikian, waste-to-energy tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi juga pada penciptaan nilai ekonomi baru. Pendekatan ini memperkuat argumen bahwa transisi energi harus dilihat sebagai peluang ekonomi, bukan sekadar beban biaya.

Dalam konteks pembiayaan, pengembangan waste-to-energy membutuhkan inovasi skema investasi yang mampu menjawab tantangan risiko dan keekonomian proyek. Inisiatif pembentukan platform investasi oleh Badan Pengelola Investasi Danantara mencerminkan kebutuhan akan mekanisme pembiayaan yang lebih fleksibel dan kolaboratif. Dengan berperan sebagai co-investor, lembaga ini dapat meningkatkan kepercayaan investor lain serta mempercepat realisasi proyek di berbagai daerah. Skema ini juga memungkinkan distribusi risiko yang lebih merata di antara para pemangku kepentingan. Selain itu, pendekatan ini membuka peluang masuknya teknologi dari luar negeri yang dapat meningkatkan efisiensi pengolahan sampah. Dengan demikian, pembiayaan menjadi salah satu kunci utama dalam menentukan keberhasilan implementasi waste-to-energy secara nasional.

Diskusi dalam forum tersebut juga menekankan pentingnya integrasi konsep ekonomi sirkular dalam pengelolaan sampah. Pendekatan ini menempatkan sampah sebagai sumber daya yang dapat dimanfaatkan kembali melalui proses daur ulang dan konversi energi. Implementasi ekonomi sirkular tidak hanya mengurangi tekanan terhadap lingkungan, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru melalui produk turunan. Dalam konteks industri, pemanfaatan energi dari sampah dapat meningkatkan efisiensi produksi dan mengurangi ketergantungan pada energi fosil. Oleh karena itu, integrasi antara waste-to-energy dan aktivitas industri menjadi langkah strategis dalam memperkuat daya saing ekonomi nasional. Pendekatan ini juga sejalan dengan tren global menuju produksi dan konsumsi yang lebih berkelanjutan.

Sebagai bagian dari pendekatan pembelajaran kontekstual, kunjungan lapangan ke TPST Kaliori dan TPST Sokaraja Kulon memberikan perspektif empiris mengenai implementasi waste-to-energy di tingkat lokal. Praktik yang dilakukan di Banyumas menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dilakukan secara efektif melalui kombinasi teknologi dan partisipasi masyarakat. Model ini menekankan pentingnya pemilahan sampah sejak sumber sebagai faktor kunci keberhasilan. Selain itu, keberadaan sistem pengelolaan terpadu memungkinkan optimalisasi pemanfaatan limbah menjadi energi dan produk bernilai tambah. Pengalaman ini memberikan pembelajaran bahwa solusi energi tidak selalu harus berskala besar, tetapi dapat dimulai dari tingkat komunitas. Hal ini memperkuat pentingnya pendekatan berbasis lokal dalam pengembangan kebijakan nasional.

Secara keseluruhan, pengembangan waste-to-energy di Indonesia mencerminkan kebutuhan akan pendekatan yang integratif, adaptif, dan kolaboratif dalam menghadapi tantangan energi dan lingkungan. Sinergi antara ilmu pengetahuan, kebijakan, dan praktik lapangan menjadi fondasi utama dalam membangun sistem energi yang berkelanjutan. Inisiatif yang dilakukan oleh ISEI dan Bank Indonesia menunjukkan bahwa kolaborasi lintas sektor dapat menghasilkan solusi yang lebih inovatif dan implementatif. Tantangan yang ada, baik dari aspek teknis, ekonomi, maupun sosial, memerlukan respons yang terkoordinasi dan berbasis data. Oleh karena itu, waste-to-energy harus diposisikan sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam pembangunan nasional. Dengan pendekatan tersebut, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mencapai target pembangunan rendah karbon secara berkelanjutan.

Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Jenderal Soedirman Jl. Profesor DR. HR Boenyamin No.708 Purwokerto, Central Java Province, 53122

Got Questions? Call us